Sabtu, 19 November 2011

SEKITAR 14 abad lalu, salah seorang sahabat terdekat Rasulullah yaitu Ali Bin Abu Thalib mengatakan, "Kejahatan yang terorganisasi dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisasi". Pendek kata, sebuah sistem harus dibangun, apapun bentuknya, jangan sampai ketergantungan kepada sosok atau figur dapat menghambat keberlanjutan organisasi. Pengasuh Pondok Pesantren (Pontren) Al-Mizan sangat memahami filosofi itu. Melalui sistem dan metode klasikal, Al-Mizan mampu mengepakkan sayapnya lebar-lebar. Jika pada awal berdirinya hanya 67 santri, sekarang telah memiliki 850 santri. Awalnya luas pesantren hanya 316 m2, sekarang 12 hektar. Pengasuh Pondok Pesantren (Pontren) Al-Mizan KH Anang Azhary Alie kepada Pelita, Rabu (24/8) mengatakan, para santri dan alumni Al-Mizan membawa misi al-Qur'an, mereka dicetak sebagai seorang hafidz atau penghapal al-Qur'an. Ketika mereka masuk ke fakultas kedokteran dan sudah menjadi dokter, mereka menjadi dokter yang hapal al-Qur'an. Atau ketika mereka masuk kuliah di fakultas ekonomi, mereka menjadi sarjana ekonomi dan ekonom yang hafidz al-Qur'an. "Untuk memenuhi kebutuhan itu Al-Hikmah membuka Tarbiayatul Muallimin al-Islamiyah atau TMI tahfidz dan nontahfidz," kata Anang. Para pengajar rata-rata adalah mereka yang telah hafal al-Qur'an yang setia melayani para santri dari waktu Subuh sampai pukul 08.00. Selain itu juga waktu pembelajaran setelah Zuhur dan ba'da Ashar. "Tahfidz ini untuk SMP-SMA sementara untuk program non-tahfidz bagi santri MTs dan Aliyah," ujarnya. Sementara untuk target penghapalan, menurut KH Anang sebanyak 30 juz, tapi itupun tidak menutup kemungkinan bagi santri hanya hapal 25 juz. Tingkat daya hafal dan besaran hapalan para santri, kata KH Anang sangat tergantung pada mujahadahnya, intelektualitas dan daya hapalnya. "Ada santri kelas IV atau kelas I SMA sudah hapal 23 juz," ujarnya. Meski menghapal al-Qur'an menjadi prasyarat kelulusan, kata KH Anang, itu menjadi bagian dari program Pesantren Al-Mizan untuk melahirkan para huffaz yang mumpuni dan ahli dibidang fisika, matematika, biologi, ekonomi, dan sebagainya. Menurut KH Anang, dengan program penghapalan, terjadi keseimbangan antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Selain itu, para santri juga lebih difokuskan dalam penguasaan bahasa, yaitu Arab dan Inggris. "Al-Mizan tidak menyebut dirinya pesantren bertaraf internasional karena sebenarnya sudah mengejawantahkannya sehari-hari dalam berbahasa," ujar alumni S2 UIN Jakarta ini. Menurut KH Anang, dalam proses pembelajaran, Pontren Al-Mizan lebih mengutamakan pendidikan daripada pengajaran. Pengajaran itu penting, tapi pendidikan jauh lebih penting. Para guru memberikan pelayanan pendidikan di pesantren 1 x 24 jam. "Pesantren mengutamakan sistem among, sistem asuh, dan sistem ajar bagi semua santri," katanya. Metode pembelajaran di dalam kelas sendiri, menurut KH Anang menggunakan direct method yaitu mengajarkan ilmu pengetahuan dengan sistem modern, jadi tidak dengan sistem bandungan, tapi disampaikan secara langsung dan ditangkap dan diserap oleh seluruh santri. Pengembangan kurikulum SELURUH pelajaran umum yang diajarkan di pesantren, menurut KH Anang baik pada tingkatan Mts/aliyah, SMP dan SMA semua diajarkan. Pada pelajaran agama, yang diajarkan di pesantren ini, belum tentu diajarkan di sekolah lain. Bahasa Arab disampaikan sesuai dengan bahasanya dan tidak boleh diajarkan dalam Bahasa Indonesia. "Bahasa Inggris disampaikan dalam pengantarnya Bahasa Inggris, tidak bolah Bahasa Indonesia, kecuali pelajaran umum," ujar KH Anang. Dari sisi sosial, keberadaaan Al-Mizan menurut KH Anang Azhary Alie sangat membantu masyarakat sekitar Rangkasbitung. Menunjang status sosial masyarakat, seluruh pekerja yang terlibat dalam proses pembangunan, pemeliharan, perawatan pesantren adalah orang-orang sekitar pesantren. "Seluruh cucian pakaian para santri dikerjakan warga sekitar termasuk penjaga atau satpam pesantren, meski itu bersifat tidak terlalu diwajibkan karena pesantren juga mendidik para santri untuk memiliki jiwa kemandirian," katanya. Berhasil membangun sistem MASIH menurut KH Anang, perkembangan santri yang pada awalnya hanya 67 santri dan sekarang telah mencapai 850 orang, pada mulanya pesantren hanya menempati sebidang tanah seluas 316 m2 bekas gudang balok. Kunci keberhasilan dalam mengelola pesantren, menurut KH Anang, tidak terlepas dari sistem yang dibangun dengan tidak bertumpu pada figur atau ketokohan. Pontren Al-Mizan yang dikelola dengan pola modern menerapkan metode klasikal, model yang tidak hanya dikelola oleh kiai semata, tetapi dibantu oleh para ustadj yang mengisi kelas-kelas itu dengan jadwal masing-masing. Selain itu pesantren juga sangat memperhatikan cara dan metode pembelajarannya selama di dalam kelas. "Setiap materi pembelajaran selalu diawasi, dikoreksi sehingga guru akan berkembang dan maju, yang tadinya guru junior menjadi senior, bahkan diharapkan mengajarnya dapat setaraf dengan kiainya," ungkapnya. Menurutnya, selama ini sistem telah terbangun dengan rapi dan tinggal menjalankan amanah mereka dalam menjaga sistem tersebut. Sistem yang dibangun Al-Mizan dan telah dikuasai oleh para santri, ternyata bisa memberikan kekuatan hidup ketika berada di luar. Hal lain yang tidak kalah penting, pesantren menurut KH Anang sangat menanamkan semengat jiwa kebebasan dalam santri-santri. Mereka tidak terlalu diikat dan diarahkan. KH Anang sangat optimistis para alumni Al-Mizan ketika lulus dapat diterima baik di perguruan tinggi maupun ketika mengabdi di masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar